PENGERTIAN BELAJAR BERMAKNA - Petir Fenomenal
Headlines News :
Home » » PENGERTIAN BELAJAR BERMAKNA

PENGERTIAN BELAJAR BERMAKNA

Ditulis Oleh Joy Johari pada Selasa, 10 April 2012 | 22.15


Apa yang dimaksud dengan belajar bermakna?
Belajar bermakna (meaningful learning) yang digagas David P. Ausubel adalah suatu proses pembelajaran dimana siswa lebih mudah memahami dan mempelajari, karena guru mampu dalam memberi kemudahan bagi siswanya sehingga mereka dengan mudah mengaitkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah ada dalam pikirannya. Sehingga belajar dengan “membeo” atau belajar hafalan (rote learning) adalah tidak bermakna (meaningless) bagi siswa. Belajar hafalan terjadi karena siswa tidak mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang lama.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam prosesnya siswa mengkonstruksi apa yang ia pelajari dan ditekankan pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam sistem pengertian yang telah dipunyainya.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar bermakna. Mereka yang berada pada tingkat pendidikan dasar, akan lebih bermanfaat jika siswa diajak beraktifitas, dilibatkan langsung dalam kegiatan pembelajaran. Sedangkan pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih efektif jika menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram dan ilustrasi.
Empat tipe belajar menurut Ausubel, yaitu:
  1. Belajar dengan penemuan yang bermakna, yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau siswa menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
  2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna, yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
  3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna, materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki.
  4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna, yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki.
Prasyarat agar belajar menerima menjadi bermakna menurut Ausubel, yaitu:
  1.  Belajar menerima yang bermakna hanya akan terjadi apabila siswa memiliki strategi belajar bermakna,
  2.  Tugas-tugas belajar yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa,
  3.   Tugas-tugas belajar yang diberikan harus sesuai dengan tahap perkembangan intelektual siswa.

Jadi belajar bermakna (meaningful learning) itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.
Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan. Pembelajaran itu sendiri pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangannya dan lingkungannya. (Sumber : http://www.anakciremai.com/2011/11/pengertian-belajar-bermakna.html, diunduh tanggal 11-02-2012).
Jika dilacak lebih jauh, sebenarnya pembelajaran kontekstual dan pembelajaran yang menyenangkan sejalan dengan prinsip bahwa pembelajaran harus bermakna (meaningfull learning), yang antara lain diajukan oleh Ausubel. Menurut pemikiran tersebut, pembelajaran haruslah bermakna bagi yang belajar, yaitu siswa. Artinya apa yang dipelajari oleh siswa bermanfaat bagi siswa. Di sinilah yang seringkali terjadi salah paham. Seringkali guru dan orang tua sangat yakin bahwa apa yang diajarkan kepada anak/siswa adalah sesuatu yang bermanfaat bahkan sangat bermanfaat. Di lain pihak, siswa/anak tidak merasakan manfaat itu. Mengapa demikian? Karena pola pikir keduanya berbeda. Orang tua atau guru melihat manfaat tersebut untuk jangka panjang, misalnya dengan mengatakan “ini penting untuk kamu setelah dewasa nanti”. Di pihak lain siswa/anak tidak memahami apa yang dimaksud setelah dewasa, karena melihat manfaat pada saat sekarang (Muchlas Samani, 2011 : 164-165).
Masih menurut MuchlasSamani, bahwa dampak terjadinya perbedaan pemahaman tersebut menyebabkan anak tidak termotivasi untuk belajar, karena tidak mengerti manfaat dari apa yang dipelajari. Sementara orang tua/guru yakin akan manfaat itu, sehingga minta anak/siswa belajar dengan sungguh-sungguh. Padahal seperti dijelaskan di atas, siswa akan termotivasi belajar, kalau merasakan apa yang dipelajari bermakna baginya. Bermakna artinya sesuai dengan kebutuhannya, baik terkait dengan hobi maupun kebutuhan saat itu atau paling tidak dia yakin akan manfaat itu.
Di situlah pentingnya guru mengaitkan apa yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari (kontekstual dengan kehidupan keseharian) dan dengan menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh siswa (kontekstual dengan perkembangan kognitif mereka). Dengan cara itu siswa akan memahami makna apa yang dipelajari bagi dirinya, sehingga akan menumbuhkan motivasi belajarnya.
Share this article :

Diposting Oleh : Joy Johari ~ http://petir-fenomenal.blogspot.com/

Artikel PENGERTIAN BELAJAR BERMAKNA ini diposting oleh Joy Johari pada hari Selasa, 10 April 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar. Semoga Artikel PENGERTIAN BELAJAR BERMAKNA ini bermanfaat.

Silahkan Klik Untuk Memasang Widget Ini!

2 komentar:

Terima kasih atas kunjungannya semoga bermanfaat. Silahkan tinggalkan komentar, mohon jangan mencantumkan link live atau spam ! Berkomentarlah dengan bahasa yang santun !

Untuk Anda yang tidak memiliki blog dapat berkomentar dengan FACEBOOK atau TWITTER dengan cara :
1. Pilih Name/URL
2. Lalu masukan nama dan URL (link) facebook atau twitter sobat
3. Lalu tekan LANJUTKAN dan berkomentarlah !

HIKMAH

Artikel Paling Sering Dibaca Pengunjung

Recommended Post Slide Out For Blogger

Komentar Teranyar

Google+ Followers

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Petir Fenomenal - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Redesign by Petir Fenomenal