TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT - Petir Fenomenal
Headlines News :
Home » » TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT

TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT

Ditulis Oleh Joy Johari pada Rabu, 29 Februari 2012 | 19.31

   Oleh: Mushadiq Ali (Rumah Dunia)

Cara memilih bahan bacaan yang tepat, bergizi tinggi dan bermanfaat? Berikut ini adalah beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar bisa memilih “bacaan” yang benar-benar tepat dan mengambil manfaatnya;

1. Sesuai dengan Prioritas
Artinya, lihatlah dan tanyakan pada diri sendiri. Apa yang sebenarnya paling dibutuhkan? Apa yang sedang ingin kita kuasai dan benar-benar urgent bagi kita? Pilih dan sesuaikan bahan “bacaan” dengan kondisi, waktu, dan tingkat prioritas. Bagi seorang pelajar jurusan sastra, tentu saja ia yang harus mendapatkan proporsi lebih baginya adalah buku bacaan sastra. Bukan malah berkutat dalam rumus-rumus kimia. Sementara bagi seorang guru TK, sudah selayaknya ia harus lebih banyak meluangkan waktu membaca dan menelaah bahan bacaan mengenai pendidikan anak ketimbang menghabiskan waktu mengisi buku Teka-Teki Silang.
Trik ini berguna agar kita fokus dan bisa menguasai pendalaman satu bidang tertentu dan tidak terjebak dalam banyaknya pembahasan materi tanpa penguasaan isi. Yang mana akhirnya, alih-alih membuat kita memahami permasalahan, malah membuat kita kebingungan sendiri dalam kumparan wacana dangkal. Ini sejalan belaka dengan hadits Nabi Muhammad Saww,: “Janganlah kau mempelajari semua ilmu karena sesungguhnya ilmu itu sangat banyak. Pelajarilah apa yang paling penting, kemudian yang lebih penting, kemudian yang penting. Selain itu, adalah kesia-siaan.”

2. Pilihlah Sumber yang Tepat
Cucu Nabi Muhammad SAW yang terkenal akan keilmuannya, guru dari para Imam empat Madzhab, Imam Ja’far as-Shadiq ra mengatakan, “Perhatikanlah olehmu darimana sumber airmu.”
Ya, perhatikan dari mana kita mengambil bahan bacaan kita. Jangan sampai waktu kita terbuang hanya untuk menelaah tema-tema junks yang tidak bermanfaat atau bahkan seringkali bertentangan dengan kemaslahatan umat. Lihatlah siapa sumber ilmu kita. Apakah ia adalah golongan pemikir yang komitmen, berdedikasi, dan berperan aktif terhadap kemaslahatan umat? Ataukah tak lebih dari seorang rakus yang menggunakan penanya hanya sebagai topeng untuk menggendutkan perutnya belaka? Apakah ia adalah penganut jalan kebijaksanaan Ilahi ataukah ia hamba pemikiran materialis yang jauh dari keadilan dan kasih-sayang? Ingatlah baik-baik bahwa “kita adalah apa yang kita makan.” Tentu kita tak mau bukan, memakan makanan dari sumber yang meragukan dan bahkan membahayakan?
Berkaitan dengan ini Imam Ali ra menyebutkan bahwa salah satu ciri nasehat yang layak didengarkan, selain tentu saja yang bermanfaat secara substansial bagi perkembangan diri kita adalah “jika ia diawali untuk kemaslahatan ummat”. Jika ia diawali dengan kemaslahatan ummat, ikutilah. Jika tidak, tinggalkanlah.

3. Bacalah dengan “cara baca yang tepat”
Setelah kita menetapkan prioritas dan memilah mana sumber “bacaan” yang tepat, maka langkah penting selanjutnya adalah kita harus membaca “bacaan” tersebut dengan “cara baca yang tepat”.

Sebuah bahan “bacaan” yang luar biasa isinya, akan menjadi sia-sia belaka dan malah bisa jadi sangat membahayakan. Jika kita salah dalam membaca dan memahaminya. Contoh yang sangat jelas adalah kitab suci al-Qur’an. Kitab suci al-Qur’an adalah kitab Ilahi yang berisi ajaran-ajaran langit nan agung. Ia berisi rahasia hikmah yang tak tertandingi kedalamannya karena sumbernya yang Maha Tinggi. Yang mana jika dipahami dan diikuti dengan benar, akan membawa manfaat yang besar di dunia dan di akhirat nanti. Tapi pada kenyataannya, saat ini kita melihat bahwa meskipun umat Islam mempunyai sumber ilmu hikmah langit yang tak tertandingi ini, umat Islam seolah terhalang hijab dari mengambil manfaat darinya. Ini disebabkan karena kebanyakan umat Islam membaca dan memahami al-Qur’an dengan cara yang salah. Al-Qur’an bukannya diletakkan di depan dan dijadikan sebagai petunjuk arah serta pembimbing, ini sebaliknya, diletakkan di belakang dan dijadikan alat pembenaran kepentingan-kepentingan sesaat. Hanya demi secuil emas dan kursi belaka. Inilah sumber keterpurukan. Jika tidak, bukankah sudah seharusnya umat Islam menjadi umat yang terbaik dan tak akan menjadi seperti hidangan di atas meja makan yang diperebutkan oleh para serigala dan singa dari segala penjuru?
Seperti halnya di atas, cara kita membaca realitas (sebagai sebuah buku bacaan raksasa) sangat berpengaruh pada hasil pemahaman kita. Disamping itu, pada dasarnya, dunia ini yang diciptakan oleh Maha Pemilik Hikmah adalah dunia yang penuh keteraturan dan hikmah. Yang menjadi masalah hanyalah, kita seringkali menyerapnya dengan cara yang salah, sehingga alih-alih kita bisa mengambil pelajaran dan mengambil manfaatnya, kita malah terjebak dalam wacana kosong yang membingungkan dan akhirnya menjebak kita dalam labirin skeptisisme, apatisme, dan pesimisme tak berujung. Ujung-ujungnya, bukannya mengikuti falsafah penciptaan Ilahiah berupa keadilan, keberaturan, dan kasih-sayang, kebanyakan dari kita malah terjebak dalam falsafah hidup chaos, absurditas, egoisme, kegelisahan, dan kegamangan!
Jika kita tak ingin sampai terjebak dalam alur yang mematikan ini, kita harus memperhatikan dan meluruskan “cara baca” kita. Jangan buru-buru menerima suatu pendapat tanpa pembuktian dan pengkajian yang memadai. Bersikaplah obyektif, jangan subyektif. Lihatlah realitas dengan kedua mata terbuka! Jangan dengan sambil memicingkan mata apalagi menutup mata! Jangan ikuti kebanyakan pendapat orang yang awam, karena sesungguhnya kebanyakan orang itu bodoh dan hanya ikut-ikutan belaka tanpa mengetahui permasalahan dan bukti-buktinya! Kajilah, telitilah, dan bandingkanlah! Jangan sekedar ikut figur tanpa meneliti terlebih dahulu isi perkataannya, komitmen dan dedikasinya pada umat. Dan, yang paling penting dari itu semua, setelah melalui semua proses ini dan menemukan kebenaran suatu permasalahan, jangan sekali-kali berpaling dan mengingkarinya hanya karena berbeda dengan pendapat pribadi dan kepentingan kita! Kalau tidak, kita tak lebih dari golongan pengingkar yang pada akhirnya hanya akan termakan oleh pembangkangan kita sendiri!

4. Menyeimbangkan Kedalaman dan Pelebaran Bacaan
Setelah ketiga poin utama di atas kita lakukan, baru kita melangkah ke poin terakhir, yaitu penyeimbangan kedalaman dan pelebaran bacaan. Pendalaman berarti kita fokus pada prioritas bidang yang ingin dikuasai. Hal ini persis sama dengan poin nomor 1. Sedangkan pelebaran, berkaitan dengan cara kita untuk mencoba membaca dan menyerap hal-hal lain di sekeliling kita. Ini kita lakukan setelah proses pendalaman bacaan ditempuh.
Nah, jika keempat poin tersebut sudah dilakukan, artinya kita benar-benar cerdas memilih dan memilah bahan bacaan yang tepat untuk kita, sehingga cepat atau lambat akan terasa hasil yang diinginkan. Dengan memperhatikan bahan bacaan berarti kita peduli pada diri sendiri dalam memilih asupan baca. Supaya kelak ketika hal semacam itu dilaksanakan tak ada rasa menyesal, melainkan rasa senang karena melakukan hal yang bermanfaat.

Share this article :

Diposting Oleh : Joy Johari ~ http://petir-fenomenal.blogspot.com/

Artikel TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT ini diposting oleh Joy Johari pada hari Rabu, 29 Februari 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat Anda sampaikan melalui kotak komentar. Semoga Artikel TIPS MEMILIH BAHAN BACAAN YANG TEPAT ini bermanfaat.

Silahkan Klik Untuk Memasang Widget Ini!

HIKMAH

Artikel Paling Sering Dibaca Pengunjung

Recommended Post Slide Out For Blogger

Total Tayangan Laman

Komentar Teranyar

Google+ Followers

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Petir Fenomenal - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Redesign by Petir Fenomenal